Senin, 13 Agustus 2012

Lupa

aku lupa caranya menulis,
untuk memperjelas apa yang kurasakan..
atau aku yang semakin egois pada diri sendiri?
menganggap apa yang ku rasakan, ku lihat dan ku sentuh adalah privacy ku..?

aku lupa caranya menulis,
untuk memperjelas semua yang terjadi..
sebelum mereka menjudge, selayaknya hakim yang tak tahu apa-apa,

aku lupa caranya menulis,
bahkan aku lupa caranya mengakhiri kalimat.

Kamis, 08 Maret 2012

Inilah saatnya untukku

Dulu, aku pernah bermimpi, menulis bahkan berimajinasi, bahwa aku adalah seorang perempuan yang kuat, punya banyak kegiatan, teman banyak dan laki-laki yang amat mencintaiku.
Mimpi itu jujur terinspirasi oleh banyak orang yang ikut menyemarakkan hari-hariku. Seperti Alm Ayah yang ku lihat setiap harinya begitu mengasihi mamaku. Tiap hari tiap menit, tutur kata yang keluar dari mulutnya begitu lembut, sikapnya begitu hangat. Dan karna itulah, aku terobsesi menemukan pria yang luar biasa cintanya seperti beliau.

Pribadiku yang sangat bebas, tak ingin dikekang, membuat ku terus berpikir bagaimana caranya untuk mengisi hari-hari dengan aktivitas. Aturan, kekangan pernah membuatku nyaris tercekik, nyaris putus asa. Apalagi tak ada support hebat seperti mama  yang menyupportku. Beberapa kali aku harus merasa pedihnya tak bisa bergerak bebas. Tapi satu alasan kenapa aku berani mengambil resiko, berani menentang dengan cara ku sendiri, karena aku harus tumbuh menjadi perempuan yang berbeda diantara mereka dan mereka.

kuat, teguh dan aku berusaha setia dengan mimpi.
dan ternyata memang tak semudah itu. Aku harus menjadi orang yang kadang harus terpaksa menutup kuping untuk tidak mempedulikan ucapan orang lain. Bahkan kalimat yang sering membuatku down.
Kadang aku juga harus bersikap cuek untuk tidak terlalu larut dalam suasana. Meski kadang, aku harus bertempur dengan hatiku sendiri. Dan aku hanya berusaha setia dengan mimpi.

sampai pada akhirnya, satu langkah yang harus ku tempuh sekarang, dan harus menjadi kenyataan karena aku  yang begitu mendambakan kehidupan yang lebih baik, dan kasih sayang yang pernah terenggut beberapa tahun yang silam, akan kembali ku rengkuh, meski dengan orang yang berbeda.

aku harus kuat dan memang harus kuat karena inilah saatnya untukku membuktikan bahwa tidak selamanya batu itu keras, tidak selamanya juga hujan terus turun....
kalau setelah hujan saja akan ada pelangi, berarti aku harus percaya setelah ini aku bisa mendapatkan apa yg selama ini ku impikan...

Minggu, 22 Januari 2012

Terpanah sepi

Yogyakarta, malam itu


Sepi, sisa tangis masih terasa
atas sebuah penghabisan asa
menanti menghabiskan masa
tak jua ada, aku binasa...

Sepi, hariku, juga hati
masih kah harus percaya kata "nanti" ?
meski diucap penuh arti
dan kini kurasa mati...

Sepi, tak ada suara
yang ada hanya lara
dan kau tak punya cara
atau mungkin tau mau bicara

Sepi, aku terpanah, tercekat
tapi kau terus mencoba memikat
ahh.. sedang ku buat sekat
tapi kurasa kau memang berbakat
hatiku kembali terikat

Sepi, aku terpanah !





Siapa yang tahu hatimu


Tak ada yang tahu hatimu,
meski kerap kali kau sampaikan padaku,
membebaskan ku melihat kedalam matamu,
tak kutemukan jawaban disana..

siapa yang tahu hatimu...

Sempat kau yakinkan padaku,
rasa, asa yang kau rasa,
tapi tak ada yg bisa menjaminkan kebenarannya,
lalu aku harus bilang apa?

siapa yang tahu hatimu...

Malam ini terulang,
sadarkah kamu apa yang kau untai?
atau kau mulai ingin mengukir luka (lagi)
dan kau berusaha membuatku yakin

siapa yang tahu hatimu...

Semu


Malam selalu bisa menjadikan ku terbuai dalam pejaman mata... tapi kini tidak untukku. Terjaga dalam malam yang panjang rasanya berbeda, dan perbedaan ku semakin terlihat ketika ku tahu, ku sadar, bahwa aku berada di sisimu..
Dan entah apa yang membuatku mengikuti setiap kerlipan matamu, meski pernah suatu kali kau menyakitiku dengan mata indah itu.
Dan entah apa yang membuatku mau bergelung di dalam dekapmu, meski pernah kau mengusirku dari dekap hangatmu.

Malam itu, aku terbuai, seolah aku mengulang cerita yang sebenarnya tak ingin ku ulang. Aku mencoba mencari kendali ku, tapi lagi-lagi kau berhasil membuatku hanyut dalam belai semu mu itu...
Aku tercekat, ketika kau berhasil mendekap erat tubuhku, aku diam, aku mencoba untuk berpikir, tapi kau selalu membuatku tak bisa mengerti, kenapa masih saja ada..... ada kau, disini.

Kau urai semua cerita, dari bagian demi bagian, menghidupkan perasaan yang pernah mati. Membuatku bergidik, aku tidak tahu apa yang kurasakan...
Tapi aku pun tahu, tak ingin lagi ku ukir cerita, tak ingin lagi merasakan perihnya lukamu.. Dan sepertinya kau mengerti apa yang ku pikirkan. Ku biarkan kamu membaca semua pikiranku, selagi aku dan kamu, bergelut dalam malam yang tak pernah suci. Ah... kamu pun berhasil.

Tangisku pecah, hatiku bergejolak kencang. Rindukah aku? Perasaan apa ini? Ku coba melihat ke dalam dua matamu, kau membalasnya dalam. Aku memejamkan mata, kau membelaiku lembut sambil membisikkan rindu. Apa ini Tuhan? Mengapa masih saja aku bisa merasakannya..

Malam itu.. aku terjaga sadar, seolah aku tidak ingin merasakan pagi.. atau mungkin aku tak ingin kembali pada kenyataan. Begitupun ia, masih saja mengulur waktu untuk memiliki dalam semalam. Dan dengan jelas ku dengar, " Kamu hanya milik ku seorang"

mmhhh...Semu...

Senin, 16 Januari 2012

Maha Pencemburu

Aku ternyata sedang rindu, melihat gerak matanya yang khawatir menatapku, berusahan mencari jawaban atas ketidak tenangan yang ia cipatakan sendiri.
Aku selalu bebas menatapnya seperti itu, menyentuhnya dengan lembut seolah hatinya ikut kusentuh... Ia akan menunduk sesaat, entah apa yang ia pikirkan, tapi yang jelas, aku bebas melihatnya khawatir, khawatir akan posisiku disampingnya.. Ia tampak egois, tapi menarik bagiku. Seolah ia mengatakan bahwa cukup hanya aku saja, bukan dia, mereka yg berhak atas aku. Dan sekali lagi... aku suka melihatnya dengan ego itu.

Aku ternyata sedang rindu, kepada caraku sendiri yang berusaha menenangkannya. Tapi kini ku lihat sekarang ia terlalu pintar, menyembunyikan rasanya, dan aku kini terjebak.


Maha pencemburu... kemana kamu bersembunyi... kenapa kamu memilih menutup egomu sendiri demi melihatku tersenyum?
Maha pemcemburu... ada apa dengan matamu? kemana gerak matamu yg khawatir, kemana genggam erat tanganmu ketika seolah kamu sedang meminum teh hangat dan menggenggamnya kuat-kuat seperti akan ada yg merebutnya?
Maha pencemburu... tidak kah kau lihat ingin sekali aku bisa menyentuhmu dengan baik, tanpa amarah lagi, dan kau pun terpesona?
Maha pencemburu.. kemana kamu, usah berlaku pintar menyembunyikannya lagi, bebaskan lah rasamu agar ku bebas merasakanmu..

Senyum ku kecut, ketika matanya tak lagi tertahan menatap ku..
rupanya aku kini harus terbisasa dengan caranya. Dan mungkin harus ku kubur segala bentuk rindu menahannya dipelukku..

Maha pencemburu ku.. masih kah kau lihat, aku ingin membebaskan cara ku.... untuk mendekapmu lagi..?

Yogya, Di balik tidurmu, kulihat kamu berubah

Minggu, 15 Januari 2012

Sosok yang menjadi nyata

Maret 2008 menjadi masa ku untuk belajar tentang cinta dan bagaimana menjaganya. Aku tidak setuju menganggap diriku sendiri sebagai perempuan muda yang bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang cinta (walau sepertinya begitu) tapi aku menghargai cerita ku sendiri.. toh ini semua perjalanan hidupku..

Namun begitulah adanya..
mungkin kesetiaan yang kuberikan kala itu dianggapnya hanya sebagai keberuntungan menemukan ku yang dengan mudahnya untuk mengelabui. aku terima saja, aku percaya saja, toh aku kala itu percaya, suatu saat mungkin dia akan mengerti betapa aku benar-benar mencintainya..

dan ketika berita itu sampai ditelingaku, bahwa ia tengah menjalin kasih dg orang lain, aku mencoba untuk tetap tersenyum kepadanya, seolah-olah tak terjadi apa-apa, dan kulihat dia yang sangat kelimpungan sendiri.. padahal saat itu, sungguh hatiku resah, aku berusaha menenangkan sendiri, hanya sendiri.
entah untuk keberapa kalinya, aku sudah terbiasa dengan berita itu, ketidaksetiaannya mungkin melelahkan dirinya sendiri hingga suatu hari ia tampak kalah, putus asa dengan semua yang kuberikan kepadanya. Tak ada cacian, hujatan bahkan tamparan karena sikapnya, aku justru semakin hari semakin menerimanya, menunjukkan kepadanya bahwa cinta itu sederhana.. hanya memberi.. tidak pernah menuntut untuk menerima kembali.

Dalam hati kecilku aku hanya bisa berdoa...
jika memang aku ditakdirkan hanya untuk sementara, aku yakin TUHAN akan mempertemukan aku dengan orang yang lebih hebat mencintai diriku.
aku terus berdoa kala itu, ketika ia menghindariku entah karena apa, aku hanya bisa diam dan berbisik, "TUHAN.. Aku percaya, suatu saat aku akan bersama dengan orang yang tak pernah membiarkan ku sendiri dalam keadaan apapun"
masih saja aku terus bergeming dalam hati, ketika ia mulai tak memperdulikan aku, dan aku sudah siap kehilangan, "TUHAN...aku percaya suatu saat aku akan di pertemukan dengan seseorang yang tak akan pernah meninggalkan aku, sesulit apapun keadaanku"
dan ketika ia benar-benar mengatakan perpisahan atas kemauannya sendiri (mungkin ia tengah putus asa melihatku yang tak pernah mencoba memprotesnya), aku berdoa dalam tangisku, "TUHAN..Kali ini aku percaya, tidak lama lagi, aku akan dipertemukan oleh orang yang menerimaku apa adanya, memimpinku, tidak pernah mengabaikanku, bersabar kepadaku... dan selalu dekat denganku"

Usai sudah semuanya, meski ia telah pergi tanpa alasan, aku bisa menerimanya, mungkin aku hanya ditakdirkan menjadi yang sementara, melengkapi warna warni hidupnya, meuliskan jejak di batu pualam, dan menjadi siluet yang tak akan tersentuh olehnya (lagi).

Dari sinilah aku melanjutkan cerita ku, banyak yang terjadi, sesekali ia muncul kembali, seolah menjadi orang yang terlambat masuk ke kelas, berlari menuju koridor demi mencapai pintu agar ia bisa masuk dan diam didalamnya. Tapi saat itu, aku seolah berperan menjadi seorang dosen, yang berhak membuka pintu atau kenyataan terpahit adalah mengusirnya.
Tapi rupanya, aku benar-benar membiarkannya, aku tahu aku sudah jengah. Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah membiarkannya muncul dengan beribu penjelasan.

Hidupku berlanjut, aku tahu dia sudah mulai terbiasa tanpaku. Aku tahu kehidupannya dengan kekasihnya, aku senang dia sudah bisa menerima bahwa aku hanya bagian kecil di hidupnya.

Di suatu waktu yang indah, dimana aku bisa melihat kupu-kupu bertengger manis di beberapa dahan, ku sadari aku tengah kedatangan seseorang yang kini membuat duniaku lebih berwana. Tak ada yang direncanakan, tapi mungkin TUHAN telah menjawab doaku...
dulu.. aku selalu berbisik tentang seorang sosok yang begitu ku dambakan....
dan ternyata, TUHAN telah membungkus rencana ini dengan begitu apik, tak terduga, dan aku kembali berbisik untuk doaku selanjutnya, "TUHAN.... aku ingin ceritaku diindahkan..aku ingin memilikinya...utuh"

Terlepas dari Maret 2008, aku menemukan tempat terindah dimana aku bisa menggoreskan namaku suatu saat di hatinya, atau dibalik cincin di tangannya..kelak.. dengan nama "fira....."


Yogyakarta, di sisa gerimis malam